"Susan susan susan Besok gede mau jadi apa
Aku kepingin pinter Biar jadi dokter"Begitulah sepenggal lirik lagu "Susan Punya Cita-Cita" yang dibawakan Ria Enes. Mungkin untuk yang telah menonton televisi di era 90'an dan awal 2000, tahu betul tentang lagu tersebut. NAMUN BUKAN DISITU POINNYA. Bukan tentang Ria Enes, Susan, ataupun sejarah mengenai lagunya. Tapi tentang makna dibalik lagu tersebut.
Sederhana mungkin yang dituliskan, mengisahkan tentang boneka Susan yang ditanya tentang cita-cita. Simak sepenggal lirik berikutnya :
"Kalau kalau benar jadi dokter Kamu mau apa
Mau suntik orang lewat Jus jus jus"
Cukup jenaka lirik tersebut dibawakan oleh Ria Enes yang bergantian antara menggunakan suaranya sendiri dengan mengisi suara Susan. Dalam lirik tersebut tertulis tentang Susan yang ingin menjadi dokter dengan alasan yang sangat sederhana. Mungkin ini yang akan dipikirkan kebanyakan anak kecil. Mudah bergonta-ganti menetapkan pilihan cita-citanya, dengan berbagai alasan yang 'masuk akal' menurut mereka. Tapi bagaimana ketika kita beranjak dewasa? Apakah bisa semudah Susan dalam bercita-cita?
(sumber: satriabayuaji.wordpress.com)
Kebanyakan dari kita ketika telah beranjak dewasa, semakin bingung menentukan pilihan cita-cita. Bahkan tidak banyak yang mulai diam dan berpikir lama ketika ditanya tentang cita-citanya. Mungkin hal itu disebabkan karena kita mulai berpikir lebih rasional. Mencocokan kondisi diri saat ini dengan berbagai peluang profesi masa depan, kemudian satu demi satu mulai menanggalkan cita-cita yang sudah terlalu sulit diwujudkan. Semakin naik jenjang pendidikan kita, hal semacam ini juga semakin mengerucut dan memusingkan kita sendiri. Ini disebabkan karena semakin menjurus hal-hal yang kita pelajari, dan semakin berkurang pula jumlah peluang profesi yang kita miliki untuk dikejar di masa depan.
(sumber: tinnajer.blogspot.com)
Untuk itulah sudah bukan saatnya kita menggantungkan cita-cita. Itu mungkin sudah menjadi konsep lama. Cita-cita itu sudah berjajar begitu banyak di langit. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita hanya mau melihat dan memimpikannya, atau berlari dan merebutnya dengan segenap tenaga. Karena satu cita-cita tidak hanya diimpikan oleh satu orang saja. Kita harus berjuang dan berjibaku dengan pesaing-pesaing cita-cita kita. Otak dan otot sudah seharusnya bersinergi dalam perjuangan kita. Ikhtiar dan doa harus selalu bergenggaman erat dalam meraihnya. Dengan begitu, apa yang kita harapkan, apa yang kita cita-citakan, akan membuka tangan lebar terhadap kehadiran kita. Mari kita bersaing! Mari rebut cita-cita kita!
(sumber: inspirably.com)



Super sekali!
BalasHapusOke terimakasih rahma :)
Hapusnice posting. Kita harus selalu berjuang demi mewujudkan cita-cita kita. Sangat memotivasi! :)
BalasHapusYa tepat sekali. Mari saling berjuang mewujudkan cita-cita masing-masing
HapusJangan pernah menyerah mengerjar cita-citamu!
BalasHapusSudah jelas. Patri cita-cita kita dalam hati!
Hapus