Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan

Got a Dream? Draw It!

We’re not a robot that created just to finish a task, and then do other tasks. Something that we do has a purpose, whether for us or the others. And the purpose has period. Some of it can be reached in short time, but for long time, we call it DREAM. All people in this world have a dream surely. And why we must draw it?

Research shows that dream which it be drawn or written, has a larger opportunity to be reached than without it. Therefore, I also do it. I have some dreams which I want to make it comes true. Here’s my dreams:

(created with: Mindjet Mindmanager and Photoshop)

Now, I’m studying at Information System (IS) Department in my Institute. Hence, my dream also talks about it. And for HMSI/KISI, they’re organizations that exist in my department. HMSI (Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi) is student association for Information System and KISI (Kajian Islam Sistem Informasi) is Islamic studies for Information System. I also want to study about organization and soft skill development from one of it.

BUT, dreaming and drawing isn’t enough for you. You must stand up. Stop talking and start action. You must try that, as difficult as any obstacles will face you. Perhaps you must remember again about what old quote said. “Do what you love, and love what you do :)”
READMORE
 

Seharusnya Tidak Kau Gantungkan Cita-Citamu


"Susan susan susan Besok gede mau jadi apa 
Aku kepingin pinter Biar jadi dokter"
Begitulah sepenggal lirik lagu "Susan Punya Cita-Cita" yang dibawakan Ria Enes. Mungkin untuk yang telah menonton televisi di era 90'an dan awal 2000, tahu betul tentang lagu tersebut. NAMUN BUKAN DISITU POINNYA. Bukan tentang Ria Enes, Susan, ataupun sejarah mengenai lagunya. Tapi tentang makna dibalik lagu tersebut.

Sederhana mungkin yang dituliskan, mengisahkan tentang boneka Susan yang ditanya tentang cita-cita. Simak sepenggal lirik berikutnya :
"Kalau kalau benar jadi dokter Kamu mau apa 
Mau suntik orang lewat Jus jus jus"
Cukup jenaka lirik tersebut dibawakan oleh Ria Enes yang bergantian antara menggunakan suaranya sendiri dengan mengisi suara Susan. Dalam lirik tersebut tertulis tentang Susan yang ingin menjadi dokter dengan alasan yang sangat sederhana. Mungkin ini yang akan dipikirkan kebanyakan anak kecil. Mudah bergonta-ganti menetapkan pilihan cita-citanya, dengan berbagai alasan yang 'masuk akal' menurut mereka. Tapi bagaimana ketika kita beranjak dewasa? Apakah bisa semudah Susan dalam bercita-cita?



Kebanyakan dari kita ketika telah beranjak dewasa, semakin bingung menentukan pilihan cita-cita. Bahkan tidak banyak yang mulai diam dan berpikir lama ketika ditanya tentang cita-citanya. Mungkin hal itu disebabkan karena kita mulai berpikir lebih rasional. Mencocokan kondisi diri saat ini dengan berbagai peluang profesi masa depan, kemudian satu demi satu mulai menanggalkan cita-cita yang sudah terlalu sulit diwujudkan. Semakin naik jenjang pendidikan kita, hal semacam ini juga semakin mengerucut dan memusingkan kita sendiri. Ini disebabkan karena semakin menjurus hal-hal yang kita pelajari, dan semakin berkurang pula jumlah peluang profesi yang kita miliki untuk dikejar di masa depan.


Untuk itulah sudah bukan saatnya kita menggantungkan cita-cita. Itu mungkin sudah menjadi konsep lama. Cita-cita itu sudah berjajar begitu banyak di langit. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita hanya mau melihat dan memimpikannya, atau berlari dan merebutnya dengan segenap tenaga. Karena satu cita-cita tidak hanya diimpikan oleh satu orang saja. Kita harus berjuang dan berjibaku dengan pesaing-pesaing cita-cita kita. Otak dan otot sudah seharusnya bersinergi dalam perjuangan kita. Ikhtiar dan doa harus selalu bergenggaman erat dalam meraihnya. Dengan begitu, apa yang kita harapkan, apa yang kita cita-citakan, akan membuka tangan lebar terhadap kehadiran kita. Mari kita bersaing! Mari rebut cita-cita kita!

(sumber: inspirably.com)
READMORE