Tampilkan postingan dengan label baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baca. Tampilkan semua postingan

Membaca-Budaya yang Sudah Mulai Dilunturkan Zaman



Dalam era serba teknologi sekarang ini, membaca selalu dikaitkan dengan buku ataupun sejenisnya. Namun ironisnya, kegiatan ini mulai jarang dilaksanakan. Baca; membaca; melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Begitu yang kbbi dapat uraikan mengenai definisi membaca. Membaca lebih sering dilaksanakan pada buku/novel/komik yang lebih dirasa menarik dan disukai hati. Bagaimana dengan literatur dan bacaan-bacaan tentang pengetahuan umum?

Sebagai sample, ketika kita membaca sebuah textbook, tentu berbeda dengan ketika kita membaca sebuah novel. Bagian halaman-halaman yang hilang dalam textbook tidaklah menjadi sebuah masalah ketika kita membacanya. Secara dominan masih dapat dimengerti kaitan antar halamannya meski ada bagian yang terputus. Berbeda dengan novel, kita pasti akan mudah menyadari dan bermasalah ketika terdapat halaman-halaman yang hilang. Hal itu diakibatkan karena cara kita yang berbeda pula dalam membaca. Sesuatu yang kita suka dan membuat tertarik, akan semakin sering dan penting pula untuk dibaca.

(Sumber : comicvine.com)

Ditinjau dari berbagai segi, malas dalam membaca selalu lebih banyak membawa dampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa cara untuk menghilangkan kebiasaan malas membaca ini, agar tidak membudaya dan menjadi karateristik bangsa. 

Berikut ini, saya mengajukan beberapa yang dapat dipraktikkan untuk menghilangkan kebiasaan malas membaca tersebut, yakni:

1.     Malas karena kantuk.

Rasa kantuk sering kali menurunkan semangat membaca. Untuk mengatasinya dapat ditempuh dengan cara mandi atau membasuh muka. Apabila ingin menghindarinya, dapat pula minum kopi atau lebih baik lagi jika didahulukan dengan istirahat yang cukup.

2.     Berganti tempat duduk.

Jika rasa malas mulai muncul, terutama saat membaca, cobalah untuk berdiri sebentar kemudian berganti tempat duduk atau cukup dengan berganti posisi duduk.

3.     Berpindah lokasi atau ruangan.

Dengan berpindah lokasi atau ruang membaca seperti ke teras, ruang tamu, tempat lain akan mampu mengurangi tingkat kebosanan yang memicu rasa malas saat belajar.

4.     Lakukan relaksasi atau penyegaran.

Rasa malas membaaca sering kali disebabkan oleh kepenatan dan rasa bosan, untuk mengatasinya silakan lalukan relaksasi atau penyegaran dengan berjalan sebentar ke luar ruangan, kebun, atau halaman untuk menghirup udara segar.

5.     Selingi dengan kegiatan lain.

Hampir sama dengan relaksasi, jika rasa malas mulai menyerang cobalah untuk melakukan aktivitas-aktivitas kecil yang berbeda seperti menata buku di rak, merapikan buku, merapikan tempat tidur, ataupun melakukan peregangan otot (olah raga sederhana) agar otot-otot kembali rileks.

6.     Berbincang-bincang ringan.

Saat mulai didatangi rasa bosan dan malas, aktivitas membaca dapat dihentikan sebentar kemudian pergi berbincang-bincang atau bercanda dengan teman atau keluarga. Jika memiliki alat komunikasi bisa juga dengan menggunakan telpon. Namun harus diingat aga jangan sampai perbincangan yang dilakukan berlarut-larut dan melupakan tujuan utama untuk membaca.

7.     Buatlah minuman.

Membuat dan meminum teh hangat, susu, juice, dan minuman lain akan sangat berguna dalam menghilangkan rasa malas dan bosan dalam membaca. 






Karena melalui membaca, kita akan mendapat banyak pengalaman baru. Setelah itu baru kita lakukan evaluasi. Hal ini diperlukan untuk mengukur seberapa jauh tingkat manfaat dan efisiensi terhadap pengalaman yang kita dapat. Melalu rumus berikut yaitu:

Pengalaman + Evaluasi = Guru Terbaik
Sehingga kita akan mendapat hikmah terbaik dari kegiatan-kegiatan tersebut. Membacalah, karena dalam setiap lembarnya mengalir berjuta cahaya, karena dalam setiap aksara membuka jendela dunia.
READMORE
 

Esensi Utama dari Sebuah Kata "Belajar"



Belajar. Tidak ada starting point untuk melakukan itu. Karena sejak lahir kita sebenarnya sudah mulai belajar. Definisi terhadapnya pun telah tertera bermacam-macam. Namun sejatinya, belajar yang hanya sekedar belajar dengan yang benar-benar belajar memiliki perbedaan, utamanya pada ketahanan, kesungguhan, dan keseriusan. Faktor gender juga menjadi salah satu perbedaan. Wanita memiliki daya tahan belajar hingga 15 menit, sedangkan pria hanya 10 menit. Untuk itu dibutuhkan istirahat atau ice break dalam sebuah pembelajaran.

(Sumber : BreakBrunch.com)

"The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write but those who cannot learn, unlearn, and relearn"
Begitu penjelasan yang diberikan Alvin Tofller mengenai arti dari belajar itu sendiri. Belajar membutuhkan ilmu, pengetahuan, dan praktek. Tanpa praktek nantinya seseorang yang belajar hanya bisa berkomentar. Oleh karena itu dengan seluruh komponen yang dibutuhkan dalam belajar tersebut, disertai dengan daya tahan, semangat, dan ketekunan, maka akan menjadikan seseorang menjadi ahli terhadap suatu bidang pembelajaran tersebut.

Pertanyaannya kini hanya ada pada diri kita masing-masing. Seberapa kuat kita akan belajar? Seberapa keras kesungguhan kita untuk belajar? Seberapa besar target yang ingin kita capai dalam belajar? Dan pertanyaan dengan 'seberapa-seberapa' yang lain berikutnya. Hanya merupakan omong kosong jika kita hanya menuliskan target-target saja, kemudian berkata 'nanti' dalam pelaksanaannya.

(Sumber : quotepixel.com)

Sejatinya, dalam hidup ini seringkali kita melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Namun pengalaman menuntut kita untuk belajar, dan belajar hanya akan dapat ditempuh penuh jika berawal dari hal kita cintai. Bunda Teresa, Ki Hajar Dewantara, Nelson Mandela, dan Mahatma Gandhi adalah contoh orang-orang yang sukses karena belajar melalui hal-hal yang dicintai dirinya sendiri. Karena sesuatu yang dicintai akan selalu LEBIH INDAH. :))

(Sumber : themetapicture.com)
READMORE