Yah, akhirnya masa-masa liburan panjang saya sudah habis. Seiring dengan penambahan kata 'maha' dalam status 'siswa' yang telah saya sandang hingga lebih dari 12 tahun, saya pun kini memulai kuliah pertama saya.
Untuk memulai kuliah saja, tidak bisa serta merta setelah diterima dalam perguruan tinggi negeri yang saya impikan ini, kemudian saya bisa mendapatkan materinya. Tentu saja seperti kebanyakan orang tahu tentang masa awal memasuki sebuah jenjang pendidikan baru, pasti ada masa orientasi sebelumnya, atau di perguruan tinggi lebih sering dikenal dengan nama 'ospek'. Entah masih berlanjut atau tidak masa ospek di PTN saya ini, yang pasti pada hari Senin lalu saya sudah mulai belajar dalam ruangan dengan status 'mahasiswa'.
Materi yang saya dapat pertama kali tersebut bernama Keterampilan Interpersonal. Cukup random mungkin pikiran yang berkutat dalam kepala saya. Saya tidak tahu bagaimana arah pembelajaran mengenai materi kuliah ini. Hingga pada akhirnya, dosen yang saya nantikan masuk ke ruang kelas saya. Pertanyaan yang terlontar dari beliau pertama kali ialah, "Tujuan kamu kuliah itu apa?"
(sumber: livingwelleducation.com)
Terhenyak? Mungkin iya. Shock? heart attack? Enggak sepertinya. Tidak sampai seekstrim itu juga respon yang saya keluarkan. Saya mulai berpikir secara umum mengenai pertanyaan tersebut. Sempat terlintas dalam pikiran saya tentang membanggakan dan membahagiakan orang tua, mendapat pekerjaan yang mapan, gaji yang besar, dan masih banyak lagi. Mungkin karena setelah dari perguruan tinggi ini akan langsung berlanjut dalam dunia kerja, sehingga prospek masa depan yang saya pikirkan sudah mulai mengarah kesana. Tidak seperti ketika SD, SMP, maupun SMA, dimana target kelulusannya hanya untuk mengejar tempat pendidikan selanjutnya yang memiliki 'nama'.
Tapi ternyata dosen kami memberikan penjelasan menarik berikutnya. Beliau menyodorkan nama-nama seperti Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan beberapa yang lain, dimana seperti kita tahu mereka adalah penemu-penemu terkenal dalam dunia IT. Namun yang mengherankan justru mereka adalah orang-orang yang tidak tuntas dalam mengenyam pendidikan. Sehingga pada intinya, bukan setinggi apa jenjang pendidikan yang telah kita tempuh, bukan pula sebaik apa tempat pendidikan yang kita dapatkan, tapi bagaimana cara kita belajar dan memperjuangkannya demi masa depan. Karena kesuksesan tidak selalu ditentukan dengan gelar. Karena kesuksesan tidak selalu berpegangan tangan dengan sarjana, magister, maupun orang-orang pandai lainnya.
(sumber: dittanisa.blogspot.com)
Setelah itu, dosen kami juga mempersilahkan beberapa teman kelas saya untuk maju. Memperlihatkan bagaimana cara mereka bersikap, berpenampilan, hingga berbicara. Jika ingin diteliti dengan serius, terdapat cukup banyak perbedaan pada diri mereka. Itu mungkin yang menjadikan ciri khas masing-masing individu. Namun kemudian dosen kami memberitahukan poinnya, bahwa manusia itu mudah berubah. Perubahan tersebut dapat terjadi baik dalam sikap, perilaku, maupun penampilan. Namun kebanyakan justru perubahannya mengarah pada keburukan.
Karena itu sudah saatnya kita, sebagai generasi penerus bangsa, melakukan perubahan yang lebih baik. Perubahan yang membawa dampak positif baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Perubahan yang dapat membelalakkan mata dunia kembali, yang dimana kini hampir terpejam. Perubahan yang dapat menampar wajah para penguasa dunia yang telah membobrokan banyak kehidupan orang lain. Karena kita bukan lah generasi yang hanya bisa tidur dan bermimpi. Kita merupakan generasi yang akan bangun di saat yang lain masih berselimut tebal dengan kasurnya. Kita adalah generasi yang akan bergerak dan merubah dunia!